Jumat, 22 Maret 2013
Kamis, 07 Maret 2013
Penulis: Ummul Husain
Muraja’ah: ustadz Abu Ukkasyah Aris
Munandar
Kebanyakan dari kita, mungkin beranggapan bahwa ibadah hanyalah sebatas pada shalat, puasa, haji, dan zakat. Padahal ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai oleh Allah dan yang telah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satu ibadah yang telah diremehkan oleh sebagian kaum muslim adalah menjaga adab-adab yang telahdiajarkan oleh Islam.
Adab-adab tersebut memang terkesan sepele, tetapi jika kita mengamalkannya dengan niat beribadah dan dengan niat meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, amal tersebut akan bernilai ibadah di sisi Allah Ta’ala. Sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya dan sesungguhnya setiap orang akan
mendapatkan hasil sesuai dengan
niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Salah satu adab islami yang sudah banyak ditinggalkan kaum muslimin adalah adab ketika bersin dan menguap. Banyak kaum muslimin saat ini yang tidak mengetahui adab ini.
Ketika bersin, banyak di antara
mereka yang tidak mengucapkan “alhamdullillah”. Mungkin itu disebabkan mereka lupa atau tidak mengetahui keutamaannya.
Demikian pula ketika ia menguap, seharusnya seorang muslim menahannya semampu mungkin.
Akan tetapi, banyak dari kita, membuka mulut lebar-lebar saat menguap, sehingga semua orang pun bisa melihat seluruh isi mulutnya.
Ada pula yang ketika menguap, mengucapkan ta’awudz, padahal perbuatan semacam ini sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sesungguhnya jika seorang muslim mengetahui betapa besar pahala yang akan diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika seorang muslim meneladani Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam maka sudah pasti manusia akan berlomba-lomba melaksanakan adab-adab yang telah diajarkan oleh Islam ini. Meskipun hal tersebut dalam perkara yang remeh di mata manusia.
Sesungguhnya Allah Membenci Menguap
Jika kita mengaku muslim dan mencintai Allah, maka salah satu konsekuensinya adalah mencintai segala sesuatu yang dicintai oleh Allah, serta membenci dan menjauhi segala sesuatu yang dibenci oleh Allah. Salah satu perkara yang dibenci oleh Allah adalah menguap.
Seperti yang diriwayatkan oleh :
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah menyukai
bersin
dan benci terhadap menguap. Maka apabila ia bersin,
hendaklah ia memuji Allah (dengan mengucapkan ‘Alhamdullillah’).
Dan merupakan kewajiban bagi setiap
muslim yang mendengarnya untuk mendoakannya.
Adapun menguap, maka ia berasal dari setan. Hendaklah setiap muslim berusaha untuk menahannya sebisa
mungkin, dan apabila mengeluarkan suara ‘ha’, maka saat itu setan menertawakannya.” (HR Bukhari)
Allah membenci menguap karena menguap adalah aktivitas yang membuat seseorang banyak makan, yang pada akhirnya membawa pada kemalasan dalam beribadah.
Menguap adalah perbuatan yang dibenci oleh Allah, terlebih-lebih ketika pada waktu shalat. Para nabi tidak
pernah menguap, dikarenakan menguap adalah salah satu aktivitas yang dibenci oleh Allah.
Tahanlah Semampumu
Jika seseorang ingin menguap, maka hendaklah dia menahannya sebisa mungkin, atau dengan menutup jalan terbukanya mulut dengan menggunakan tangannya. Hal ini sesuai dengan hadits yang telah diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menguap adalah dari setan, maka jika salah seorang di antara kalian menguap, hendaklah ia menahannya sedapat mungkin.” (HR Muslim)
Ketika seseorang ingin menguap hendaknya ia menutup mulutnya dengan tangan kiri, karena menguap adalah salah satu perbuatan yang buruk.
Sesungguhnya Allah Mencintai Orang yang Bersin
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
bahwasanya Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menyukai bersin.” (HR Bukhari)
Bersin merupakan sesuatu yang disukai karena bersin dapat menyehatkan badan dan menghilangkan keinginan untuk selalu mengenyangkan perut, serta dapat membuat semangat untuk beribadah.
Adapun menguap, maka ia berasal dari setan. Hendaklah setiap muslim berusaha untuk menahannya sebisa
mungkin, dan apabila mengeluarkan suara ‘ha’, maka saat itu setan menertawakannya.” (HR Bukhari)
Allah membenci menguap karena menguap adalah aktivitas yang membuat seseorang banyak makan, yang pada akhirnya membawa pada kemalasan dalam beribadah.
Menguap adalah perbuatan yang dibenci oleh Allah, terlebih-lebih ketika pada waktu shalat. Para nabi tidak
pernah menguap, dikarenakan menguap adalah salah satu aktivitas yang dibenci oleh Allah.
Tahanlah Semampumu
Jika seseorang ingin menguap, maka hendaklah dia menahannya sebisa mungkin, atau dengan menutup jalan terbukanya mulut dengan menggunakan tangannya. Hal ini sesuai dengan hadits yang telah diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menguap adalah dari setan, maka jika salah seorang di antara kalian menguap, hendaklah ia menahannya sedapat mungkin.” (HR Muslim)
Ketika seseorang ingin menguap hendaknya ia menutup mulutnya dengan tangan kiri, karena menguap adalah salah satu perbuatan yang buruk.
Sesungguhnya Allah Mencintai Orang yang Bersin
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
bahwasanya Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menyukai bersin.” (HR Bukhari)
Bersin merupakan sesuatu yang disukai karena bersin dapat menyehatkan badan dan menghilangkan keinginan untuk selalu mengenyangkan perut, serta dapat membuat semangat untuk beribadah.
Sumber : muslimah.or.id
Minggu, 03 Maret 2013
PACARAN sama dengan ZINA
Seorang wanita berkata:
"Janganlah kau mengajakku mendekati zina (berpacaran)!!! Inilah hakikat PACARAN. Pria yang memacari wanita sebenarnya cintanya tidak tulus yang ada hanyalah nafsu dan hasrat pribadi. BUKTINYA dia tidak peduli jika wanita yang dipacarinya celaka dan masuk neraka bahkan dirinya pun terancam hal yang sama, asalkan dirinya bisa bersenang – senang dengan wanita tersebut. Jadi sudah jelas cintanya itu palsu dan hanya nafsu saja. Dia hanyalah seorang pria PENGECUT bila tak ingin disebut penjahat. Pengecut yang berani berbuat dan tak berani bertanggung jawab".
Kehidupan seorang muslim atau
muslimah tanpa pacaran adalah hambar, begitulah kata mereka. Kalau dikatakan
nggak usah kamu pacaran maka serentak ia akan mengatakan "Lha kalo nggak
pacaran, gimana kita bisa ngenal calon pendamping kita?". kalo dikatakan
pacaran itu haram akan dikatakan, "pacaran yang gimana dulu.".
Beginilah keadaan kaum muda sekarang, racun syubhat, dan racun membela hawa
nafsu sudah menjadi sebuah hakim? akan hukum halal-haram, boleh dan tidak.
Tragis memang kondisi kita ini, terutama yang muslimah. Mereka para muslimah
kebanyakan berlomba-lomba untuk mendapatkan sang pacar atau sang kekasih, apa
sebabnya, "Aku takut nggak dapat jodoh". Muslimah banyak ketakutannya
tentang calon pendamping, karena mereka tahu bahwa perbandingan laki-laki dan
perempuan adalah 1 : 5. Tapi apakah jalan pacaran sebagai penyelesaian ?
Jawabnya Tidak. Bagaimana bisa, kita ikuti selengkapnya pembahasan ini sebagai
berikut, (diambil dari buku Pacaran dalam Kacamata Islam karya Abdurrahman
al-Mukaffi)
Dikatakan beliau bahwa? pacaran dikategorikan sebagai nafsu syahwat yang tidak dirahmati oleh Allah, karena ketiga rukun yang menumbuhkan rasa cinta menyatu di luar perkawinan. Hal ini dilakukan dengan dalih sebagai suatu penjajakan guna mencari partner yang ideal dan serasi bagi masing-masing pihak. Tapi dalam kenyataannya masa penjajakan ini tidak lebiih dimanfaatkan sebagai pengumbaran nafsu syahwat semata-mata, bukan bertujuan secepatnya untuk melaksanakan perkawinan
Hal ini tercermin dari anggapan mereka bahwa merasakan ideal dalam memilih partner jika ada sifat-sifat sebagai berikut :
Dikatakan beliau bahwa? pacaran dikategorikan sebagai nafsu syahwat yang tidak dirahmati oleh Allah, karena ketiga rukun yang menumbuhkan rasa cinta menyatu di luar perkawinan. Hal ini dilakukan dengan dalih sebagai suatu penjajakan guna mencari partner yang ideal dan serasi bagi masing-masing pihak. Tapi dalam kenyataannya masa penjajakan ini tidak lebiih dimanfaatkan sebagai pengumbaran nafsu syahwat semata-mata, bukan bertujuan secepatnya untuk melaksanakan perkawinan
Hal ini tercermin dari anggapan mereka bahwa merasakan ideal dalam memilih partner jika ada sifat-sifat sebagai berikut :
Mereka merasa beruntung sekali jika selalu dapat berduaan, dan berpisah dalam waktu pendek saja tidak tahan rasanya. Dan keduanya merasa satu sama lain saling memerlukan.
Mereka merasa cocok satu sama lainnya. Karena segala permasalahan yang sedang dihadapi dan dirasakan menjadi masalah yang perlu dicari pemecahannya bersama. Hal ini dimungkinkan karena mereka satu dengan lainnya merasa dapat mencapai saling pengertian dalam seluruh aspek kehidupannya.
Mereka satu sama lain senantiasa berusaha sekuat tenaga untuk menuruti kemauan sang kekasih. Hal ini dimungkinkan karena perasaan cinta yang telah tumbuh secra sempurna dengan pertautan yang kuat.
Tapi tanpa disadari, pacaran itu sendiri telah melambungkan perasaan cinta maki tinggi. Di sisi lain pacaran menjurus pada hubungan intim yang merusak cinta, melemahkan dan meruntuhkannya. Karena pada hakekatnya hubungan intim dalam pacaran adalah tujuan yang hendak dicapai dalam pacaran. Oleh karena itu orang yang pacaran selalu mendambakan kesyahduan. Dengan tercapainya tujuan tersebut kemungkinan tuntutannya pun mereda dan gejolak cintanya melemah. Hingga kebencian menghantui si bunga yang telah layu, karena si kumbang belang telah menghisap kehormatan secara haram.
mereka telah tersosialisasi
dengan keadaan seperti ini, seolah-olah mengharuskan adanya pacaran dengan
bercintaan secara haram. Bahkan lebih dari itu mereka berani mengikrarkan,
bahwa cinta yang dilahirkan bersama dengan sang pacar adalah cinta suci dan
bukan cinta birahi. Hal ini didengung-dengungkan, dipublikasikan dalam segala
bentuk media, entah cetak maupun elektronika. Entah yang legal maupun ilegal.
Padahal yang diistilahkan kesucian dalam islam adalah bukanlah semata-mata
kepemudaan, kegadisan dan selaput dara saja. Lebih dari itu, kesucian mata,
telinga, hidung, tangan dan sekujur anggota tubuh, bahkan kesucian hati wajib
dijaga. Zinanya mata adalah berpandangan dengan lawan jenis yang bukan
muhrimnya, zinanya hati adalah? membayangkan dan menghayal, zinannya tangan
adalah menyentuh tubuh wanita yang bukan muhrim. Dan pacaran adalah refleksi
hubungan intim, dan merupakan ring empuk untuk memberi kesempatan terjadinya
segala macam zina ini.
Rasulullah bersabda,
"Telah tertulis atas anak adam nasibnya dari hal zina. Akan bertemu dalam hidupnya, tak dapat tidak. Zinanya mata adalah melihat, zina telinga adalah mendengar, zina lidah adalah berkata, zina tangan adalah menyentuh, zina kaki adalah berjalan, zina hati adalah ingin dan berangan-angan. Dibenarkan hal ini oleh kelaminnya atau didustakannya".
Rasulullah bersabda,
"Telah tertulis atas anak adam nasibnya dari hal zina. Akan bertemu dalam hidupnya, tak dapat tidak. Zinanya mata adalah melihat, zina telinga adalah mendengar, zina lidah adalah berkata, zina tangan adalah menyentuh, zina kaki adalah berjalan, zina hati adalah ingin dan berangan-angan. Dibenarkan hal ini oleh kelaminnya atau didustakannya".
kan pacarannya cuman lewat telfon pak ?
itu pacaran hanya sekedar status yg membedakan ?
itu pacaran hanya sekedar status yg membedakan ?
mau lewat telfon, mau lewat
pesawat, mau lewat internet, mau lewat jendela, sama saja Zinanya mata adalah
berpandangan dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya, zinanya hati adalah?
membayangkan dan menghayal, zinannya tangan adalah menyentuh tubuh wanita yang
bukan muhrim. Dan pacaran adalah refleksi hubungan intim, dan merupakan ring
empuk untuk memberi kesempatan terjadinya segala macam zina ini.
Wallahu Aa'lam,,,
Sumber : https://www.facebook.com/mutiara.najwa.71
Selasa, 26 Februari 2013
Kisah Penderitaan khabab bin Al-Arat ra
Khabab bin al-Arat ra. adalah seorang sahabat
yang tubuhnya dipenuhi keberkahan, karena berbagai ujian dan penderitaan di
jalan Allah yang telah ia alami. pada masa awalislam, ia masuk Islam ketika
baru lima hingga enam orang yang telah menerima Islam, sehingga Cukup lama ia
bergelut dalam penderitaan. ia pernah dipakaikan baju besi, lalu dibaringkan di
bawah terik matahari yang sangat panas. keringat bercucuran dari tubuhnya.
Begitu lama ia disiksa di bawah terik matahari, sehingga daging punggungnya
mengelupas karena panas. Ia adalah hamba sahaya milik seorang wanita. Ketika
tuannya mengetahui bahwa ia sering menjumpai Nabi saw., maka ia menghukumnya
dengan menusukkan batang besi panas ke kepala Khabab ra..
Pada masa khalifah Umar bin Khattab ra., ia
meminta Khabab menceritakan kembali, bagaimana penderitaannya dahulu pada awal
Islam. Jawabnya, "Lihatlah punggunku ini !" Umar ra. pun melihat
punggungnya. Begitu melihatnya, ia berkata, "Belum pernah kulihat punggung
seperti ini." Khabab ra. meneruskan, "Aku diseret di atas timbunan
bara api yang menyala, sampai lemak dan darah yang mengalir dari punggungku
memadamkan apinya."
Setelah Islam jaya dan pintu-pintu kemenangan
telah banyak diraih, khabab ra. menangis, "Jangan-jangan Allah telah
membalas penderitaan kita. aku khawatir ini hanya di dunia. "khabbab ra.
bercerita, "suatu ketika, Nabi saw.shalat lama sekali, tidak seperti
biasa. Lalu ada seorang sahabat bertanya kepada beliau tentang shalatnya itu.
jawab nabi saw., "ini adalah shalat yang penuh harap dan takut".
telah aku ajukan tiga permintaan kepada Allah. Dua telah di kabulkan, dan
satunya di tolak . aku memohon agar umatku tidak dimusnahkan karena kelaparan,
doa ini di kabulkan. kedua, aku meminta agar umatku tidak dikuasai oleh musuh
yang akan menghancurkannya sama sekali, dan doa dan doa ini pun di
kabulkan-Nya. yang ketiga, aku meminta agar jangan ada pertikaian antara
umatku, tapi doa ini tidak di kabulkan-Nya."
Khabbab wafat pada usia 37 tahun. ia adalah
sahabat yang pertama kali dikuburkan di kufah. setelah wafatnya, Ali ra. pernah
melewati kuburnya dan ia berkata, " semoga Allah merahmati khabbab. dengan
semangatnya ia telah memeluk Islam, dan ia rela menghabiskan waktunya untuk
hijrah, jihad, dan menerima segala penderitaan serta musibah. penuh berkahla
orang yang selalu mengingat hari kiamat, dan selalu bersiap-siap menerima kitab
amalnya pada hari hisab, dan ia jalani kehidupan ini dengan menerima apa
adanya, dan ia membuat ridha Tuhannya."
Faedah :
Sebenarnya, hanya ridha ilahi-lah yang menjadi
tujuan utama para sahabat ra..semuanya dilakuakan semata-mata untuk mendapat
ridha-Nya.
Di kutip dari Buku : "Kitap
Ta'lim FADHAIL AM'ALSyekhul Hadits Maulana MUHAMMAD ZAKARIYYA AL -
KANDHALAWI".
Penerbit : Pustaka Nabawi
Kisah Kesyahidan Sumayyah ummu Amar ra
Sumayyah binti Khayyat ra. adalah ibu Amar ra.,
Ia seorang wanita yang sangat banyak menanggung penderitaan demi islam,
sebagaimana Amar dan suaminya, Yasir ra.. karena cintanya terhadap Islam telah merusak
ke dalam hatinya, hal itu tidak mempengaruhi keimanannya sedikit pun. ketika
matahari bersinar sangat panas, mereka dibaringkan di atas kerikil-kerikil
panas dengan dikenakan baju besi di tubuhnya. kadangkala mereka diberdirikan di
tempat yang sangat panas, hingga tambah tersiksa. Apabila Nabi saw. melewati
mereka, beliau memberi semangat agar bersabar dan mengabarkan janji surga
kepada mereka.
Suatu ketika, ketika sumayyah ra. sedang berdiri,
lewatlah abu Jahal di depannya. lalu keluarlah caci maki dari mulut Sumayyah
ra. terhadap abu Jahal, sehingga Abu Jahal marah. Abu Jahal langsung menusukkan
tombaknya di kemaluan Sumayyah ra.. akhirnya, dengan luka itu ia mati syahid.
inilah syahid yang pertama kali demi Islam. (Asadul Ghobah).
Faedah :
Wanita yang sabar dan besemangat seperti inilah
yang harus ditiru. demikianlah, apabila hati seseorang itu sudah terlalu
mencintai sesuatu, maka setiap hal yang berkenaan dengannya akan dianggap
mudah. Hari ini pun puluhan kisah cinta sering kita degar, hingga jiwa
dikorbankan. Namun, jika pengorbanan jiwa dikorbankan di jalan Allah demi
agama, inilah yang menjadi sebab kebahagiaan dalam kehidupan lain yang dimulai
bersama kematian. dan jika bertujuan untuk mencari keduniaan, maka dunia itu
akan musnah, dan di akherat ia akan memperoleh kehancuran.
Di kutip dari Buku : "Kitap Ta'lim FADHAIL
AM'ALSyekhul Hadits Maulana MUHAMMAD ZAKARIYYA AL - KANDHALAWI".
Penerbit : Pustaka Nabawi
Senin, 25 Februari 2013
Belajar Sholat Wajib Dan Sholat Sunnah Yang Khusyu
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang
beriman. QS. al-Mu’minun (23) : 1 (Yaitu) orang-orang yang khusyu dalam
shalatnya. QS. al-Mu’minun (23) : 2
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Bacalah al-Qur’an setiap hari 1 juz.
Kalau tidak mampu, bacalah separuh juz.
Kalau tak mampu, bacalah sekedar sehelai atau satu muka surat.
Kalau tak mampu, berusahalah dengan satu ayat.
Kalau tak mampu juga, cukuplah hanya dengan memandang al-Quran dan tanyalah kepada diri sendiri "Ya Allah, apakah dosaku sehingga aku tidak dapat membaca ayat Mu?"
Astagfirullah ...
Kalau tidak mampu, bacalah separuh juz.
Kalau tak mampu, bacalah sekedar sehelai atau satu muka surat.
Kalau tak mampu, berusahalah dengan satu ayat.
Kalau tak mampu juga, cukuplah hanya dengan memandang al-Quran dan tanyalah kepada diri sendiri "Ya Allah, apakah dosaku sehingga aku tidak dapat membaca ayat Mu?"
Astagfirullah ...
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
*Sifat-Sifat ‘Ibadurrahman…(1)
berseri insyaAllah
1. Tawadhdhu’ (rendah hati).
Allah berfirman,
وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الأَرْضِ هَوْنًا
“Dan hamba-hamba Robb Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati.” {QS.Al-Furqon:63}
Maknanya mereka berjalan di atas muka bumi ini dengan tenang, sopan tidak angkuh atau sombong, namun merekalah orang-orang yang khusyu’ kepada Allah, rendah hati kepada manusia. Dan sungguh Allah telah memerintahkan NabiNya yang mulia untuk berlaku tawadhdhu’. Allah berfirman,
وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Dan merendahlah kamu terhadap orang-orang yang beriman.” {QS.Al-Hijr:88}
Dan Allah juga melarang NabiNya dari berlaku angkuh dan sombong. Allah berfirman,
وَلاَ تَمْشِ فِي الأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولاً
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (QS.Al-Isro’:37}
Karenanya, Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam adalah pemimpin dari orang-orang yang tawadhdhu’ dengan segala ketinggian dan kedudukan beliau, meski beliau adalah seorang Nabi. Suatu ketika, seorang budak wanita (yang masih kecil) di madinah mengambil tangan beliau dan pergi untuk menyelesaikan urusannya, dan mereka tidak kembali kecuali setelah urusannya selesai.
Dan di antara contoh sifat tawadhdhu’ beliau, beliau sangat benci bila ada sahabatnya yang berdiri karena untuk menyambut datangnya beliau. Sahabat Anas rodhiyallaahu ‘anhu menceritakan,
“Tidak ada seorang pun yang dicintai oleh para sahabat Rosulullaah melebihi cintanya kepada Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam. Meski demikian, mereka enggan untuk berdiri menyambut kedatangan Rosulullaah karena mereka mengetahui bahwa Rosulullaah membenci perbuatan tersebut.”
Rosulullaah sangat mendorong para sahabatnya untuk selalu berlaku tawadhdhu’, dan mewanti-wanti mereka dari berbuat angkuh dan sombong. Beliau mengatakan,
“Barangsiapa tawadhdhu’ karena Allah maka Allah akan mengangkat derajatnya.” {HR.Thobroni,8/172}
Beliau juga bersabda,
“Tidaklah masuk surga seorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan (meski hanya) seberat biji sawi.” {HR.Muslim,1/93}
Maka hendaklah kita bersemangat untuk selalu bersikap rendah hati kepada sesama kita, terlebih-lebih lagi kepada kedua orang tua kita, guru-guru kita, dan kepada sesame manusia. Maka barangsiapa yang tawadhdhu’ terhadap manusia maka ia akan ditinggikan oleh Robbnya manusia.
{Dikutip dari Majalah Al-Furqon edisi 134. “Karakteristik Ibadurrahman”, Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Azhim Badawi Al-Kholafi, Diringkas dari muhadhoroh beliau di masjid STAI Ali bin Abi Tholib, Surabaya, diterjemah oleh Al-Ustadz Abu Faiz.}
berseri insyaAllah
1. Tawadhdhu’ (rendah hati).
Allah berfirman,
وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الأَرْضِ هَوْنًا
“Dan hamba-hamba Robb Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati.” {QS.Al-Furqon:63}
Maknanya mereka berjalan di atas muka bumi ini dengan tenang, sopan tidak angkuh atau sombong, namun merekalah orang-orang yang khusyu’ kepada Allah, rendah hati kepada manusia. Dan sungguh Allah telah memerintahkan NabiNya yang mulia untuk berlaku tawadhdhu’. Allah berfirman,
وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Dan merendahlah kamu terhadap orang-orang yang beriman.” {QS.Al-Hijr:88}
Dan Allah juga melarang NabiNya dari berlaku angkuh dan sombong. Allah berfirman,
وَلاَ تَمْشِ فِي الأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولاً
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (QS.Al-Isro’:37}
Karenanya, Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam adalah pemimpin dari orang-orang yang tawadhdhu’ dengan segala ketinggian dan kedudukan beliau, meski beliau adalah seorang Nabi. Suatu ketika, seorang budak wanita (yang masih kecil) di madinah mengambil tangan beliau dan pergi untuk menyelesaikan urusannya, dan mereka tidak kembali kecuali setelah urusannya selesai.
Dan di antara contoh sifat tawadhdhu’ beliau, beliau sangat benci bila ada sahabatnya yang berdiri karena untuk menyambut datangnya beliau. Sahabat Anas rodhiyallaahu ‘anhu menceritakan,
“Tidak ada seorang pun yang dicintai oleh para sahabat Rosulullaah melebihi cintanya kepada Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam. Meski demikian, mereka enggan untuk berdiri menyambut kedatangan Rosulullaah karena mereka mengetahui bahwa Rosulullaah membenci perbuatan tersebut.”
Rosulullaah sangat mendorong para sahabatnya untuk selalu berlaku tawadhdhu’, dan mewanti-wanti mereka dari berbuat angkuh dan sombong. Beliau mengatakan,
“Barangsiapa tawadhdhu’ karena Allah maka Allah akan mengangkat derajatnya.” {HR.Thobroni,8/172}
Beliau juga bersabda,
“Tidaklah masuk surga seorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan (meski hanya) seberat biji sawi.” {HR.Muslim,1/93}
Maka hendaklah kita bersemangat untuk selalu bersikap rendah hati kepada sesama kita, terlebih-lebih lagi kepada kedua orang tua kita, guru-guru kita, dan kepada sesame manusia. Maka barangsiapa yang tawadhdhu’ terhadap manusia maka ia akan ditinggikan oleh Robbnya manusia.
{Dikutip dari Majalah Al-Furqon edisi 134. “Karakteristik Ibadurrahman”, Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Azhim Badawi Al-Kholafi, Diringkas dari muhadhoroh beliau di masjid STAI Ali bin Abi Tholib, Surabaya, diterjemah oleh Al-Ustadz Abu Faiz.}
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
[‘Ibaadurrahmaan..]
oleh; Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Azhim Badawi Al-Kholafi hafizhohullaahu ta’ala.
‘Ibaadurrahmaan adalah hamba-hamba pilihan Allah ‘Azza wajalla. Merekalah orang-orang yang diberi kecerdasan karena mereka memahami hakikat hidup, bahwa dunia ini adalah kampung sementara, adapun akherat adalah kampung yang kekal dan abadi. Karenanya, mereka mewujudkan hakekat ‘ubudiyyah (penghambaan) kepada Allah ‘Azza wajalla dengan sebenarnya. Dahulu dikatakan ;
“Sungguh Allah memiliki hamba-hamba yang cerdas..
Mereka membuang dunia karena khawatir dari fitnahnya..
Mereka berjalan di atasnya, namun setelah mereka tahu..
Bahwa ia (dunia) bukanlah tempat tinggal sesungguhnya..
Mereka hanya jadikan dunia sebagai lautan..
Dan mereka jadikan amal sholeh sebagai kapal (menuju akherat)..”
Merekalah orang-orang pilihan yang Allah muliakan, dan Allah tinggikan mereka dengan ubudiyyah (penghambaan) kepadaNya. Allah berfirman,
وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الأَرْضِ هَوْنًا
“Dan hamba-hamba Robb Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati…” {QS.Al-Furqon:63}
Allah menyandarkan عِبَادُ (hamba) kepada namaNya الرَّحْمَنِ , maka penyandaran seperti ini dalam literature bahasa arab bertujuan menunjukkan mulianya sesuatu tersebut. Artinya dalam konteks ini ialah menunjukkan mulianya para hamba tersebut, karena memang ubudiyyah (penghambaan) kepada Allah adalah kemuliaan yang paling mulia, dengannyalah Allah meninggikan NabiNya yang mulia pada kedudukanyang tinggi dengan kedudukan ubudiyyah (penghambaan) ini.
Kedudukan ubudiyyah (penghambaan) kepada Allah adalah kemuliaan yang paling mulia, karenanya Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam senang untuk dipanggil عَبْدُ اللَّهِ (hamba Allah). Beliau pernah mengatakan,
لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
“Janganlah kalian menyanjung-nyanjung diriku seperti yang dilakukan orang nashrani kepada Nabi Isa bin Maryam, karena aku adalah hamba (Allah) katakana saja aku adalah hamba Allah dan RosulNya.”
{Dikutip dari Majalah Al-Furqon edisi 134. “Karakteristik Ibadurrahman”, Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Azhim Badawi Al-Kholafi, Diringkas dari muhadhoroh beliau di masjid STAI Ali bin Abi Tholib, Surabaya, diterjemah oleh Al-Ustadz Abu Faiz.}
oleh; Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Azhim Badawi Al-Kholafi hafizhohullaahu ta’ala.
‘Ibaadurrahmaan adalah hamba-hamba pilihan Allah ‘Azza wajalla. Merekalah orang-orang yang diberi kecerdasan karena mereka memahami hakikat hidup, bahwa dunia ini adalah kampung sementara, adapun akherat adalah kampung yang kekal dan abadi. Karenanya, mereka mewujudkan hakekat ‘ubudiyyah (penghambaan) kepada Allah ‘Azza wajalla dengan sebenarnya. Dahulu dikatakan ;
“Sungguh Allah memiliki hamba-hamba yang cerdas..
Mereka membuang dunia karena khawatir dari fitnahnya..
Mereka berjalan di atasnya, namun setelah mereka tahu..
Bahwa ia (dunia) bukanlah tempat tinggal sesungguhnya..
Mereka hanya jadikan dunia sebagai lautan..
Dan mereka jadikan amal sholeh sebagai kapal (menuju akherat)..”
Merekalah orang-orang pilihan yang Allah muliakan, dan Allah tinggikan mereka dengan ubudiyyah (penghambaan) kepadaNya. Allah berfirman,
وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الأَرْضِ هَوْنًا
“Dan hamba-hamba Robb Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati…” {QS.Al-Furqon:63}
Allah menyandarkan عِبَادُ (hamba) kepada namaNya الرَّحْمَنِ , maka penyandaran seperti ini dalam literature bahasa arab bertujuan menunjukkan mulianya sesuatu tersebut. Artinya dalam konteks ini ialah menunjukkan mulianya para hamba tersebut, karena memang ubudiyyah (penghambaan) kepada Allah adalah kemuliaan yang paling mulia, dengannyalah Allah meninggikan NabiNya yang mulia pada kedudukanyang tinggi dengan kedudukan ubudiyyah (penghambaan) ini.
Kedudukan ubudiyyah (penghambaan) kepada Allah adalah kemuliaan yang paling mulia, karenanya Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam senang untuk dipanggil عَبْدُ اللَّهِ (hamba Allah). Beliau pernah mengatakan,
لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
“Janganlah kalian menyanjung-nyanjung diriku seperti yang dilakukan orang nashrani kepada Nabi Isa bin Maryam, karena aku adalah hamba (Allah) katakana saja aku adalah hamba Allah dan RosulNya.”
{Dikutip dari Majalah Al-Furqon edisi 134. “Karakteristik Ibadurrahman”, Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Azhim Badawi Al-Kholafi, Diringkas dari muhadhoroh beliau di masjid STAI Ali bin Abi Tholib, Surabaya, diterjemah oleh Al-Ustadz Abu Faiz.}
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"92 cara mudah membiasakan anak sholat"....(9 & 10)
9. Bersungguh-sungguhlah dalam menyuruh anak-anak anda sholat dan jangan biarkan mereka sholat sesekali saja, tapi tekankan mereka untuk sholat.
10. Dahulukan masalah-masalah akherat atas masalah-masalah dunia dalam segala kondisi dan kesempatan, agar anak anda terbiasa bahwa tidak ada persaingan di antara keduanya. Menunaikan sholat pada waktunya lebih penting daripada melaksanakan tugas-tugas sekolah, mendapatkan satu roka'at itu lebih utama daripada bermain sepak bola, dan memelihara waktu-waktu sholat itu lebih penting daripada menjaga hubungan dengan teman, berbincang-bincang dengan teman melalui telepon atau menonton acara-acara televisi.
{Dikutip dari "92 thoriiqoh lita'wid auladika 'ala ash-sholah", Hana' binti 'Abdul 'Aziz Ash-Shunai', edisi terjemah; 92 cara mudah membiasakan anak shalat. darul haq.}
9. Bersungguh-sungguhlah dalam menyuruh anak-anak anda sholat dan jangan biarkan mereka sholat sesekali saja, tapi tekankan mereka untuk sholat.
10. Dahulukan masalah-masalah akherat atas masalah-masalah dunia dalam segala kondisi dan kesempatan, agar anak anda terbiasa bahwa tidak ada persaingan di antara keduanya. Menunaikan sholat pada waktunya lebih penting daripada melaksanakan tugas-tugas sekolah, mendapatkan satu roka'at itu lebih utama daripada bermain sepak bola, dan memelihara waktu-waktu sholat itu lebih penting daripada menjaga hubungan dengan teman, berbincang-bincang dengan teman melalui telepon atau menonton acara-acara televisi.
{Dikutip dari "92 thoriiqoh lita'wid auladika 'ala ash-sholah", Hana' binti 'Abdul 'Aziz Ash-Shunai', edisi terjemah; 92 cara mudah membiasakan anak shalat. darul haq.}
Minggu, 24 Februari 2013
Belajar Adab Adab Sunnah Rasulullah saw
“Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu
bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir
kepada Allah.” (Q.S Al-ahzab: 21)
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Firman Allah Subhanahu wata'ala: “Laki-laki
dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, maka Allah menyediakan
untuk mereka pengampunan dan pahala yang agung.(QS. Al-Ahzaab: 35)
Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maukah kamu, aku tunjukkan perbuatanmu yang terbaik, paling suci di sisi rajamu (Allah), dan paling mengangkat derajatmu, lebih baik darimu dari infaq emas dan perak, dan lebih baik bagimu dari pada bertemu dengan musuhmu, lantas kamu memenggal lehernya atau mereka memenggal lehermu?”. Para shahabat yang hadir berkata: “Mau wahai Rasulullah !”. Beliau bersabda ” Dzikir kepada Allah Yang Maha Tinggi.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Mari kita sertakan dzikir dalam setiap aktifitas kita...
Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maukah kamu, aku tunjukkan perbuatanmu yang terbaik, paling suci di sisi rajamu (Allah), dan paling mengangkat derajatmu, lebih baik darimu dari infaq emas dan perak, dan lebih baik bagimu dari pada bertemu dengan musuhmu, lantas kamu memenggal lehernya atau mereka memenggal lehermu?”. Para shahabat yang hadir berkata: “Mau wahai Rasulullah !”. Beliau bersabda ” Dzikir kepada Allah Yang Maha Tinggi.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Mari kita sertakan dzikir dalam setiap aktifitas kita...
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadaku:
"Jika engkau ingin tidur, maka berwudhulah seperti wudhumu untuk shalat. Lalu tidurlah pada sisi sebelah kanan(miring ke kanan), dan bacalah: "Ya Allah, Ya Rabku, aku serahkan diriku kepada-Mu dan aku titipkan perkaraku kepada-Mu, dan aku serahkan ragaku kepada-Mu dengan penuh rasa takut (ditolak) dan rasa harap (diterima). Tidak ada tempat untuk berlindung dan menyelamatkan diri dari-Mu kecuali kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang Engkau turunkan kepada Nabi-Mu yang Engkau utus)."
Beliau lalu bersabda:
"Jika kamu meninggal, maka kamu meninggal dalam keadaan suci di atas fitrah, dan jadikanlah itu akhir dari yang kamu ucapkan." Al Bara berkata, "Aku berkata, "Aku lalu minta agar doa itu disebutkan semuanya." Aku berkata, "dan dengan Rasul-mu yang telah Engkau utus." Beliau bersabda: "Tidak, (tapi ucapkanlah) 'Dan dengan Nabi-Mu yang telah Engaku utus'." (HR. Abu Daud 5046)
Sudahkah kita mengamalkan nya malam ini....
Semoga kita dapat mengamalkannya secara istiqomah..
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Jika engkau ingin tidur, maka berwudhulah seperti wudhumu untuk shalat. Lalu tidurlah pada sisi sebelah kanan(miring ke kanan), dan bacalah: "Ya Allah, Ya Rabku, aku serahkan diriku kepada-Mu dan aku titipkan perkaraku kepada-Mu, dan aku serahkan ragaku kepada-Mu dengan penuh rasa takut (ditolak) dan rasa harap (diterima). Tidak ada tempat untuk berlindung dan menyelamatkan diri dari-Mu kecuali kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang Engkau turunkan kepada Nabi-Mu yang Engkau utus)."
Beliau lalu bersabda:
"Jika kamu meninggal, maka kamu meninggal dalam keadaan suci di atas fitrah, dan jadikanlah itu akhir dari yang kamu ucapkan." Al Bara berkata, "Aku berkata, "Aku lalu minta agar doa itu disebutkan semuanya." Aku berkata, "dan dengan Rasul-mu yang telah Engkau utus." Beliau bersabda: "Tidak, (tapi ucapkanlah) 'Dan dengan Nabi-Mu yang telah Engaku utus'." (HR. Abu Daud 5046)
Sudahkah kita mengamalkan nya malam ini....
Semoga kita dapat mengamalkannya secara istiqomah..
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kepada saudara sendiri dan ke sesama muslim.
Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Al-Baqarah : 195)
Rasulullan shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Barangsiapa yang meringankan dari seorang mukmin satu kesulitan dan kesulitan-kesulitan dunia, maka Allah akan ringankan untuknya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan Hari Kiamat. Barangsiapa yang memudahkan seorang yang mengalami kesulitan, maka Allah akan beri kemudahan untuknya di dunia dan di akhirat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim maka akan Allah tutupi (aibnya) di dunia dan di akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba selama sang hamba tersebut menolong saudaranya. ( HR. Muslim 2699 )
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Barangsiapa yang yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya. HR. Al-Bukhari 2442
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti sebuah bangunan, satu sama lain saling menguatkan.Kemudian Rasulullah menyilangkan jari-jemarinya.( HR. Al-Bukhari 481.)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :
Perumpamaan kaum mukminin dalam kasih sayang, sikap rahmah, dan sikap lembut antar mereka adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh mengeluh kesakitan, maka seluruh badannya akan tidak bisa tidak dan merasakan sakit.( HR. Muslim 2586 )
Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Al-Baqarah : 195)
Rasulullan shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Barangsiapa yang meringankan dari seorang mukmin satu kesulitan dan kesulitan-kesulitan dunia, maka Allah akan ringankan untuknya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan Hari Kiamat. Barangsiapa yang memudahkan seorang yang mengalami kesulitan, maka Allah akan beri kemudahan untuknya di dunia dan di akhirat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim maka akan Allah tutupi (aibnya) di dunia dan di akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba selama sang hamba tersebut menolong saudaranya. ( HR. Muslim 2699 )
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Barangsiapa yang yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya. HR. Al-Bukhari 2442
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti sebuah bangunan, satu sama lain saling menguatkan.Kemudian Rasulullah menyilangkan jari-jemarinya.( HR. Al-Bukhari 481.)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :
Perumpamaan kaum mukminin dalam kasih sayang, sikap rahmah, dan sikap lembut antar mereka adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh mengeluh kesakitan, maka seluruh badannya akan tidak bisa tidak dan merasakan sakit.( HR. Muslim 2586 )
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Adab kesesama manusia.
Kandungan al-Qur'an Surah Luqman ayat 17-19, disebutkan:
Luqman pun mengajak anaknya untuk senantiasa mendirikan shalat, menyampaikan kebaikan, mencegah keburukan, dan bersabar mengatasi kesulitan (ayat 17). Luqman juga melarang anaknya bersikap sombong. Ciri-ciri orang yang tidak sombong, yaitu: (1) tidak memalingkan wajah ketika bertemu orang lain. (2) tidak berjalan dengan sikap angkuh. (3) rendah hati; dan (4) tidak berbicara kasar dan melengking.
Luqman berkata kepada anaknya: "Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.(QS. Al-Quran Surah LUQMAN (31) ayat 17-19)
Kandungan al-Qur'an Surah Luqman ayat 17-19, disebutkan:
Luqman pun mengajak anaknya untuk senantiasa mendirikan shalat, menyampaikan kebaikan, mencegah keburukan, dan bersabar mengatasi kesulitan (ayat 17). Luqman juga melarang anaknya bersikap sombong. Ciri-ciri orang yang tidak sombong, yaitu: (1) tidak memalingkan wajah ketika bertemu orang lain. (2) tidak berjalan dengan sikap angkuh. (3) rendah hati; dan (4) tidak berbicara kasar dan melengking.
Luqman berkata kepada anaknya: "Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.(QS. Al-Quran Surah LUQMAN (31) ayat 17-19)










